Lelaki itu mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat melalui kedua lubang hidung. Rimbun asapnya mengepul-ngepul disekitar ruangan. Aroma nikotin yang pekat begitu terasa diudara. Dan lelaki itu seperti berusaha menikmati kepulan-kepulan asap rokok yang berseliweran liar didepannya, tanpa peduli sedikitpun tanda “dilarang merokok” yang terpampang jelas di sudut ruang.
Lelaki itu lalu mematikan rokoknya yang belum benar-benar habis di asbak, lalu berjalan kearah jendela.
Diluar, hujan deras turun mengguyur bumi. Irisan-irisan air jatuh menerpa kaca jendela yang lalu membuatnya buram. Sesekali kilat terlihat menyambar di awan yang demikian pekat disaput mendung. Lelaki itu mendesah. Telunjuknya lalu ia tempelkan di atas permukaan kaca jendela yang lembab. Dingin dan basah. Begitu banyak kenangan yang pernah ia lalui bersama hujan.
Seperti dulu.
Dalam berbagai kesempatan, saya sering menganggap Tuhan sebagai tokoh yang humoris. Maha Humoris. Tentu bukan berarti saya mengatakan Tuhan itu konyol –yang dibuat-buat dengan memaksa. Humor cerdas yang hanya milik-Nya. Hak yang jelas kita tak punya.

Dalam berbagai kesempatan kita diajak bercanda. Tak sama dengan manusia, ada sebuah rencana besar dalam canda yang Beliau lempar. Life’s a big joke, kata seseorang.
Tentu bukan joke milik kita. Kadang kala sapaan penuh canda Tuhan, kita tanggapi dengan demikian seriusnya. Hingga kita marah, mengutuk, memaki, menyalahkan atau putus asa. Banyak juga yang kemudian merasa ada yang salah dengan perencanaan, manajemen ataupun strateginya dalam hidup.
Yang saya rasa, Tuhan malah menunjukkan kebesaraan-Nya dengan sedemikian cueknya. Akal kita dibanting. Keyakinan kita diruntuhkan. Kekuatan kita dikebiri. Logika kita dipenuhi kabut. Untuk lalu –jika beruntung kita akan dengan legowo mengakui bahwa kita itu bukan apa-apa.
Joke itu bisa berupa rejeki, keseuksesan, ataupun musibah. Suatu hari di bandara, saya pernah ngobrol dengan seorang Bapak yang juga menunggu pesawat yang sama dengan saya.
Beliau bercerita bahwa sebenarnya kini ia tak begitu suka melakukan perjalanan udara karena konon maskapai penerbangan melakukan segalanya untuk efisiensi. Ia takut terjadi kecelakaan. Tiba-tiba seorang Bapak yang jauh lebih tua bertutur:
“Lho kenapa begitu, pak? Bukankah pada akhirnya kita harus sadar bahwa musibah itu ndak ada rumusnya?”
Saya yakin Tuhan tersenyum, atau hanya saya saja yang kurang ajar berani-beraninya membayangkan Beliau tersenyum.
Mau naik Garuda (nama maskapai, bukan jenis makanan) pun kalau memang jatahnya ciloko ya terjadi saja. Atau lagi enak-enak tidur ngorok dengan mulut mangap trus kejatuhan tai cicak, itu kan di luar kekuasaan kita. Bisa juga lagi enak-enak “kumpul” dengan istri eh tiba-tiba jantungan lalu modar.
Pada akhirnya kita tak bisa merangkai rumus apapun. Sang Bapak tua menambahkan:
“Yang bisa kita lakukan hanyalah usaha yang maksimal dan keikhlasan dalam setiap jengkal kehidupan kita….”
Ketika naik pesawat, saya berpikir. Betul juga, saya tak berhak apalagi kompeten untuk memeriksa mesin pesawat yang akan saya naiki ini layak terbang atau tidak. Yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa:
“Ya Allah segala sesuatunya adalah milik-Mu. Hidupku dan matiku adalah bukti kebesaran-Mu jua. Dan segalanya akan kembali pada-Mu….”
Dan kini, saya hanya tersenyum ketika Tuhan dengan segala kuasa-Nya memindahkan lokasi syuting kehidupan saya ke Luwuk. Sampai jumpa, Manado!
Gusti Kang Murbeng Dumadi, titip Lanang dan Istri saya ya….
Minggu ini saya akan mencoba sesuatu yang baru dalam kiprah per-blogging-an saya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian yang ada dan kemampuan menulis yang ala kadarnya, saya memulai sebuah eksperimen penulisan kisah fiksi yang saya namakan sebagai : Saberin atau Kisah Bersambung Interaktif. Konsepnya sama sekali berbeda dengan Cerita Estafet atau Cerfet yang dipopulerkan pertama kali oleh komunitas blogger Blogfam, yang juga beberapa kali saya ikuti. Karena disini hanya saya yang menjadi penulis tunggal.
Untuk pengenalan karakter tokoh dan mengintrodusir potensi konfliknya, pada episode pertama hingga ketiga, saya akan menulis tanpa melibatkan pembaca sebagai kontributor ide lanjutannya. Di episode keempat dan seterusnya, secara interaktif saya akan membuka kesempatan kepada setiap pembaca Saberin untuk berpartisipasi dan berkontribusi menyumbangkan ide lanjutan cerita kisahnya, melalui kolom komentar.
Pada pertengahan abad 17 seorang ahli klinis Sedillot mendeskripsikan fungsi utama gastrostomy sebagai komplikasi dari cedera perang. Gastrostomy dilakukan Sedillot pada dua pasien yang menghasilkan radang perut dan kematian. Proserdur Jejunostomi pertama kali dilakukan oleh Surmay pada tahun 1879. Tidak lama berselang pada 1890-an inovasi pada teknik operasi dipopulerkan. Teknik witzel serosal-linde gastric tunnel dan prosedur Stamm of concentric pursestring sutures yang ditempatkan di sekitar tube gastrostomi dikembangkan pada tahun 1890-an. Kedua teknik ini mencegah ledakan cairan gastric intraperisoneal, yaitu suatu komplikasi yang sering menghasilkan kematian pasien gastrostomi. Gastrostomi Witzel dan Stamm cenderung menutup tube gastrostomi tanpa stenting. Pada awal 1900-an saluran gastrostomi menciptakan sebuah mucocutaneous ostomy permanen. Sejak pergantian abad, lebih dari 30 teknik operasi dikembangkan untuk tube gastrostomi.
Gastrostomy, juga disebut penyisipan gastrostomy tube (g-tube), adalah operasi yang dilakukan untuk memberikan pembukaan eksternal pada perut. Pada bayi dan anak-anak, gastrostomi dikenali dengan pemberian makanan dalam durasi yang panjang dan kekurangan tekanan udara atau kombinasi keduanya. Dalam tiga dekade terakhir, manajemen peri-operative lebih lanjut memicu penggunaan gastrostomi yang lebih selektif pada pasien dengan berbagai kondisi operasi pediatrik seperti cacat bawaan pada system pernapasan gastrointestinal dan pada dinding abdominal. Di sisi lain terdapat peningkatan penggunaan gastrostomi pada bayi dan anak tanpa patologi bedah. Indikasi utama untuk akses langsung pada lambung (gastric) pasien jenis ini adalah ketidakmampuan menelan, biasanya ditambah dengan pemburukan system saraf. Indikasi tambahan untuk gastrostomi adalah tidak adanya kemauan untuk mengkonsumsi kalori yang cukup pada anak-anak.
Pembuluh nasogastric harus diutamakan jika durasi akses pemasukan makanan yang diharapkan kurang dari 1 atau 2 bulan karena saluran kecil untuk pemberian makanan yang baru sangat biocompatible dan tetap halus untuk memperpanjang jangka waktu.
Saluran gastrostomi digunakan untuk memperpanjang pemasukan makanan pada pasien yang tidak mampu mendapatkan nutrisi secara oral. Beberapa indikasi yang sebaiknya dibuatkan saluran makanan antara lain: kerusakan sistem syaraf (stroke, cedera tulang punggung, demensia, koma), disfungsi menelan (penyakit neuromuscular), luka parah (kanker esophageal, trauma oropharyngeal), dan kelumpuhan (beberapa malnutrisi, kanker lanjutan, kegagalan pernapasan). Penyederhanaan teknik untuk penggantiannya dan meningkatkan material menjadikan gastrostomi sebagai cara yang tepat dalam penanganan kasus akut dan kronis. Pebaikan dan penggantian saluran gastrostomi adalah pemecahan masalah yang terbaik.
Gastrostomi adalah procedur bedah untuk menyisipkan saluran (pipa) melalui dinding abdomen menuju lambung. Pipa tersebut digunakan untuk pemberian makanan atau cairan. Pembedahan dilakukan baik ketika pasien di bawah anesthesia umum, pasien merasa seolah-olah tertidur pulas dan tidak menyadari apapun yang terjadi, atau anesthesia lokal. Pada anasthesia lokal pasien sadar namun bagian dari tubuh yang dibedah tidak merasakan apapun (matirasa).
Gastrostomi penyisipan saluran makanan sering dilakukan melalui mulut dengan sebuah prosedur yang disebut endoscopy. Prosedur ini dapat juga dilakukan melalui bedah. Ketika pasien sedang matirasa, sebuah irisan kecil dibuat pada sisi kiri lambung. Sebuah pipa kecil, fleksibel, berlubang dan sebuah balon atau tip khusus dimasukkan ke dalam lambung. Lambung kemudian dijahit mendekati saluran dan ditutup.
Pipa gastrostomi digunakan untuk:
· Pemberian makanan pada orang yang kesulitan menghisap atau menelan lebih dari 14 hari
· Mengairi lambung dengan asam atau cairan khusus untuk menutupi antara lambung dan usus kecil.
Bunda : Halo cantik... namanya siapa?Aulia : Auyiya *Aulia*
Bunda : Aulia anak siapa sih?
Aulia : Anak ayah bunda
Bunda : Ayahnya namanya siapa?
Aulia : Ayah Anto
Bunda : Ayah Anto orang mana?
Aulia : Olang Dawa *orang Jawa*
Bunda : Kalo bunda namanya siapa?
Aulia : Bunda Nuni
Bunda : Bundanya orang mana?
Aulia : Goontawo *Gorontalo*
Bunda : Jadi Aulia orang mana dong?
Aulia : Olang Dawa dong! *orang jawa dong*
Bunda : :P
Suatu hari, ketika ayah, bunda dan aulia lagi bobok bareng dikamar...
Bunda : Ini siapa ya? *sambil nunjuk foto aulia di dinding*
Aulia : Auyiya! *Aulia*
Bunda : Ooo.. Aulia anak bunda!
Ayah : Aulia anak ayah!
Bunda : Anak bunda! Kan cantik seperti bunda! *Wakakak. dilarang protes :P*
Ayah : Anak ayah.. kan orang Jawa!
Aulia : Sama-sama waaa (yaaa)... anak ayah.. anak bunda.. *sambil nyengir dengan wajah lugu*
Ayah & Bunda : Hiiii..(pamer gigi) *maluuu!*
Suatu hari..
Bunda : (baru mandi dan sedang mematut wajah dicermin.. lirik kiri-lirik kanan..)
Aulia : (sedang guling-gulingan di tempat tidur) bundaaaa...!
Bunda : yaaa...?
Aulia : tidak tantit! *tidak cantik*
Bunda : woooot? huaaaaa....*pengen pingsan*
Minggu sore.. Ayah, bunda dan aulia sedang jalan-jalan *tepatnya motoran* mau beli gorengan...
Dalam perjalanan :
Ayah : Nanti beli pisang goreng aja.. gak usah beli tahu isi. Kemarin kan semua sukanya pisang goreng.
Bunda : Iya.. kalo pisang goreng enaknya yang di andalas apa di JDS?
Ayah : Andalas jo..
Sesaat kemudian...
Aulia : Tidak mauuuu!!! Bakwaaaann... bakwaaaann! *teriaak!*
Bunda : Haaaah? *kaget* iya..iya..iya... *duuuh anakku!*
Kemarin sore..
Aulia : Bunda... eh..eh..! *merengek*
Bunda : Ya.. kenapa? *sambil asyik nonton tv*
Aulia : Ehh..ehh... dituuuw.. *terus merengek-rengek*
Bunda : Apaa? Aulia mau apa? *bingung*
*Tiba-tiba di tv (SCTV) ada iklan sinetron "Kok Gitu Sih"*
Aulia : Itu diaaaaa!... ehh.. ehhh..! *meloncat-loncat dengan girangnya*
Saiko *dari kamarnya* : Aulia minta dinyanyikan lagu "ehh..eh.. kok gitu sih..."
Bunda : Oooooooooohhhhh.... *tepok jidat* (baru ngeh kalo lirik lagu itu ada kata ehh..ehh... Wakakakakak!



