ANAK BELAJAR
Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, dia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, dia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, dia belajar mendengki
Jika anak dibesarkan dengan rasa malu, dia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, dia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan ketekunan, dia belajar menghadapi tantangan
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, dia belajar mengenali diri
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, dia belajar dermawan
Jika anak dibesarkan dengan jujur & terbuka, dia belajar kebenaran & keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, dia belajar temukan cinta dalam hidup
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, dia belajar berdamai dengan pikiran
(writen by: Dorothy)
Sebuah Diary tua bersampul biru.
Lelaki itu memandang lekat sampul catatan hariannya yang telah usang dengan lidah kelu. Setiap kali, saat membuka lembar demi lembar Diary tersebut, sontak seluruh tubuhnya bergetar hebat. Barisan-barisan kenangan seperti melintas cepat dihadapannya. Berpendar-pendar riuh, kadang cemerlang, kadang kelam dan membuat batinnya ngilu seketika.
Tapi ia berusaha menguatkan hati.
Terakhir kali ia membuka dan membaca kembali diary itu tahun lalu, saat menulis sesuatu disana. Untuk terakhir kalinya, setidaknya hingga saat ini.
Perlahan lelaki itu membuka lembaran paling belakang Diary birunya. Jemarinya bergetar dan lirih ia lantunkan kalimat demi kalimat yang tertera disana.
Perempuan Bermata Lembut, perkenankan aku menulis sepucuk surat yang mungkin tak akan pernah sampai padamu lewat diary ini. Ratusan bahkan ribuan bilah-bilah waktu telah berlalu, tak akan pernah membuat surat ini usang. Karena pada setiap bilangan huruf, kata dan kalimat yang tertera, senantiasa ada seberkas rindu yang membasuh dan membuatnya seperti baru kembali.
Sepanjang masa dan tiap kali musim berganti.
Meski untuk itu, selalu ada rasa perih yang mengiringinya.
“Sabda” Kahlil Gibran yang berkata, Cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba, bagaikan mendapatkan pembenaran ketika sosokmu perlahan menghilang dibawah bentangan lazuardi bertabur bintang. Kepergianmu meninggalkan begitu banyak jejak luka dihati. Yang aku yakin, tak akan pernah kamu sadari. Bahkan ketika bayang-bayangmu memudar dipusaran waktu yang menderu, sementara aku tergugu ngilu dalam pilu.
“Jangan mencariku. Aku yang akan menemukanmu dengan cara yang tak akan kamu duga sama sekali,” katamu lirih. Dan desau angin malam membawa desir suaramu berlalu.
Juga senyummu.
Lelaki itu menghela nafas panjang. Ia menutup Diary yang telah usang dibekap waktu itu dengan hati remuk. Hujan masih belum reda.
A feeding tube may have to be removed because it is irreversibly clogged, leaking, or broken; persistently developing kinks; too large or too small; causing a hypersensitivity reaction; associated with an abscess; or not the appropriate length for feeding into the desired viscus. Before a new transabdominal feeding tube is inserted, the old tube must be removed. Most, but not all, tubes can be removed without endoscopy. It is imperative to know whether the tube in place is safe to remove before attempting to remove it. Standard de Pezzer or mushroom catheter that have been modified with bolsters or rings at the time of endoscopic or surgical insertion may no longer be safe to remove with sutures or rigid internal bumpers or stays. It is rare, however, to encounter a tube that cannot be removed with traction. Recently placed feeding tubes may need to be left in until a tract has formed (1 to 2 weeks dependingon the procedure) even if the tube is nonfunctional. The externally visible tube does not always reveal the internal stabilization (see Fig. 41-18).
A simple Foley catheter gastrostomy is easiest to remove. Once the Foley balloon is deflated, the tube should slide right out. If the Foley balloon cannot be deflated, cutting the tube may allow the balloon to deflate. The catheter must not be cut so close to the abdomen that it will be impossible to maintain a grip on it for a traction removal if the balloon still does not deflate. The balloon also may be punctured to cause it to deflate. To puncture a Foley balloon, traction is applied to the catheter to draw the balloon up against the ostomy. Using the taut feeding tube as a guide, a 20- or 21- ga needle is passed along the tube tu puncture the balloon. It may be necessary to try again on the other side of the catheter, because the balloon may be asymmetrically anflated, and contact with the needle may be established on one side and not the other. The clinician should be careful not to tract away from the ostomy into the patient’s abdominal wall or to cause separate punctures of the stomach. The balloon is allowed a minute to deflate before another attempt is made at traction removal. Large nondeflating balloons should probably be punctured, whereas small balloons may be removed with traction.
Traction is an acceptable removal technique for feeding tubes that are secured by a small mushroom. A towel is placed over the orifice, and the clinician applies counterpressure with the flat part of the hand against the abdominal wall as the tube is placed under tension (Fig. 41-21). This causes the tube and end mushroom to narrow, and the tube should come out easily. The inner crossbar, if present, may remain in the stomach when the rest of the feeding tube complex is removed by traction. Obstruction from the crossbar, which will pass in the stool, has yet to be reported for adults. In small children, obstruction is a possibility, and the crossbar should be removed by endoscopy.
A local anesthetic may be useful in selected cases of feeding tube removal, especially when the tube is in some way secured subcutaneously-for example, by a Dacron cuff. It may be difficult to remove a catheter accidentally caught by fascial suture during operative closure.
Removal of gastrostomy tubes with moderate to large mushrooms may be easier if the mushroom is distended with a sound or stylet. The length of the gastrostomy tube should be known so that the sound be known so that the sound may be inserted to the correct depth. Firm resistance should be noted at deeper depths represent pressure on the viscus wall and can result in viscus puncture. The premeasured stylets that come with feeding devices are useful instruments for assisting in removal. This is particularly true of gastrostomy “button”, whose ands resemble de Pezzer catheter. Because button come in a variety of lengths, it is important to have the prorer stylet. Following elective permanent removal of a gastrostomy tube, a pressure dressing should aid in closure of the fistula.
Some clinician and surgeon may strongly condemn cutting off the tube at the skin, even when the risks posed by the procedure are very low. It is always advisable to cantact the patient’s private clinician before cutting the tube. In some cases endoscopic retrieval of the tube remmant will be preferred to allowing rectal passage, and the tube should not be cut until just before or during endoscopy to ensure that migration does not occur before endoscopy.
Sebagai rangkaian kegiatan Idul Adha 1428 H, penyembelihan hewan qurban di LPMP Gorontalo tadi pagi (10/12) sekitar jam 09.00 Wita telah dilaksanakan yang disaksikan langsung oleh Kepala LPMP Gorontalo Ibu Hj. Luizah Saidi, M.Pd., pejabat struktural dan widyaiswara.
Kasubag Umum Bapak Eky Aristanto P. Punu, SE. MM. yang juga sebagai Panitia Idul Adha, dalam laporannya mengemukakan bahwa sebanyak 3 ekor sapi yang disembelih pada tahun ini dan daging qurban tersebut akan didistribusikan kepada masyarakat di sekitar kantor, selain tentu kepada karyawan baik tenaga honorer maupun tenaga abdi. Menurutnya, “alhamdulillah sejak LPMP Gorontalo berdiri tahun 2003 setiap tahunnya LPMP Gorontalo pada hari raya haji selalu ikut berqurban, dan diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu, soal jumlah besar kecil tergantung pada kondisi ekonomi”.Sementara itu dalam sambutannya Kepala LPMP Gorontalo Ibu Hj. Luizah Saidi, M.Pd.
mengemukakan, bahwa hal yang penting dalam pelaksanaan Idul Qurban ini adalah bagaimana mengaplikasikan qurban untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, walau kondisi ekonomi saat dilanda krisis global namun itu tidak menjadi kendala, karena menyemarakkan kurban adalah suruhan pada setiap muslim yang mampu suatu bukti kecintaan pada sang Khaliq. Disisi lain kata beliau, manfaat kurban selalin disuruh belajar iklas, juga rasa tanggung jawab paling utama digambarkan didalam sejarah kurban tersebut. maka itu umat Islam harus belajar dengan dengan sifat Nabi Ibrahim. dimana rela mengorbankan harta benda termasuk perintah menyembeli anaknya Ismail demi kecintaan pada Allah.
Seusai menyampaikan sambutan, Kepala LPMP Gorontalo Ibu Hj. Luizah Saidi, M.Pd.
berkenan menyerahkan hewan qurban secara simbolis kepada Panitia, yang diwakili oleh Kasubag Umum Bapak Eky Aristanto P. Punu, SE. MM.

